Perburuan yang belum berakhir…

Salam,

 

Petualangan berburu dagelan yang telah lama menghilang tersebut, pada saat itu diawali dari obrolan mengenai dagelan-dagelan yang beberapa kali dipentaskan di beberapa tempat di Yogyakarta. Pementasan humoria antara lain diperankan oleh beberapa komedian Yogyakarta, sebut saja Gareng Rakasiwi, Setiawan Tiadatara bersama Plat-ABnya, Kelik Pelipurlara bersama LBHnya yang dulu pernah satu rombongan dengan ganknya Plat-AB, Dibyo bersama Lekas Sembuh (entah sudah sembuh atau belum), dan beberapa pelawak lain dengan ciri khas masing-masing, di beberapa tempat antara lain Purna Budaya UGM, Java Kafe, Boulevard UGM, dan tempat lain.

 

Pada beberapa tahun yang lalu, sekitar akhir 90an dan awal 2000an terdapat beberapa pementasan yang dapat sering menghibur masyarakat Yogyakarta dan sekitarnya dari berbagai aktivitas kehidupan kota “kecil”, hal ini entah karena ijin keramaiannya mudah dikeluarkan kepolisian, atau sewa tempatnya murah, atau tren hiburan humor sedang hi-rate, atau ide dagelan memang sedang on fire, atau karena alasan lainnya, namun yang pasti dalam waktu yang tidak berselang lama, terjadualkan pementasan genre lawak yang beruntun.

 

Dari obrolan mengenai pementasan lawak tersebut kemudian muncul sebuah nama yang sempat tenggelam, “BASIYO”. “nek kowe pengen ngrungokke dagelan sing tenanan goleko kaset e Basiyo, nek aku mbiyen sok ngrungokke koleksine Bapakku, tapi saiki kaset e do nengndi rareti, yo sesuk tak golekane, nek ora, kowe turuten neng pasar loak ngejaman (Malioboro), mungkin ono sing duwe” Danar Wirawan mencoba untuk menjelaskan dan membrain-stormingkan. Sebaris kalimat itulah kira-kira salah satu titik awal perburuan dimulai.

 

Langkah pertama adalah melebarkan telinga dan membuka mata, mencoba mengumpulkan informasi mengenai keberadaan kaset rekaman Basiyo. Setelah beberapa waktu sebuah obrolan ternyata mengarah ke sasaran. Anes, seseorang yang tinggal di daerah Soragan, Yogyakarta membuka pijakan dengan judul ”Degan Wasiyat” dan ”Maling Kontrang Kantring”. Dua kaset koleksi dari peninggalan orang tuanya tersebut mengawali pencarian panjang dan berliku. Sebenarnya rekan Anes memberikan tiga kaset, ternyata setelah ditreatment kemudian, judulnya adalah ”Palaran Jenggleng”, namun pada saat  saya terima, suara dari rekaman tersebut kurang qualified untuk direkam ulang.

 

Setelah mencicipi dagelan ala Basiyo tersebut akhirnya memang mengakibatkan dampak ketagihan yang luar biasa, dengan hasrat menggebu-gebu memaksakan kaki untuk melangkah, dengan tujuan utama pedagang kaset loak. Pada saat itu tertanam pandangan bahwa rekaman Basiyo sudah tidak diproduksi lagi, ya.. mau gak mau mencari kaset second. Bersama Andreas Hermawan (Aris), tetangga di kampung Srimulyo, Triharjo, Sleman (Tanah Air Beta), berangkatlah dengan sepeda motor (Honda Astrea Star), melaju ke arah Jalan Malioboro, tepatnya di Ngejaman (sekarang Pasar Sore), sebelah Pasar Beringharjo (Jalan A. Yani).

 

Langkah kaki menyusuri trotoar Jalan A. Yani, depan Pasar Beringharjo (selatan Malioboro), pandangan mata tidak melewatkan seinci dagangan yang dipajang, telinga dipertajam sensornya, barangkali ada yang sedang iseng memutar dagelan mataram tersebut. Pada saat berada di sudut Bangunan tua yang terdapat terompet kuno di atasnya, telinga mendengar suara yang sayup-sayup terdengar seperti orang terpingkal-pingkal, naluri mengarahkan langkah ke sumber suara. Setelah menganalisa jenis suara dan dialeknya dapat dipastikan bahwa kaset yang diputar adalah rekaman Basiyo, dapat mengenali karena sudah menikmati Degan Wasiyat dan Maling Kontrang-kantring. Pertanyaan spontan keluar, ”Mas, kaset e didol piro ?” tanyaku, ”Wah, kui dudu nggonku e mas, aku meng nyilih karo bapake sing gek lungguh kae”, timpal seorang penjual kaset. ”Pak, njenengan sing duwe kaset niku, disade pinten ? ndak njenengan nduwe judul liyane ?”.

 

Pertanyaan demi pertanyaan seolah tak sabar untuk mengetahui apa yang akan menjadi penasaran selama ini. ”Woo.. kulo nduwe kathah mas, glo.. sak kerdus…”, jawabnya seraya meyakinkan. ”Hla.. trus sakniki, kasete dietung pinten ?” tanyaku mengejar. ”Ajeng mundut kathah nopo mas ?” balas pedagang itu. ”Nek dietung murah nggih le tuku akeh.

 

Wolong ewu mawon mas” penawaran yang diajukan pedagang itu, harapnya tanpa ditawar lagi. ”Wuahh…. hla kok larang, pun ngeten mawon, sing enten teng kerdus niku kulo tuku kabeh, anggere judule bedo, nek sing podo nggih mboten, dietung limang ewu mawon”. Akhir cerita setelah melalui tawar menawar yang melelahkan, goyang sana goyang sini, sikut sana sikut sini, angka enam ribu rupiah adalah harga yang saya sepakati dengan pedagang kaset loak tersebut. Malam itu saya hanya membawa uang Rp20.000,- ya.. karena niatnya hanya iseng jalan-jalan, tapi berharap menemukan satu atau dua koleksi rekaman Basiyo. Ternyata malam itu merupakan malam keberuntungan, ”sepuluh” judul akhirnya ”ditemukan”/ discovered. Tapi sebagai tanda jadi pemborongan kaset itu, dibuat kesepakatan bahwa saya beli sepuluh kaset itu, tapi saya berikan Rp20.000,- dan saya bawa tiga kaset, selebihnya dilunasi pada hari (malam) berikutnya, karena waktu hampir pukul 9 malam, dan jika musti pulang ambil uang lalu kembali ke pasar loak itu hampir pasti sudah tutup.

 

Sebuah pertanyaan sampingan terlontar, ”Pak, njenengan kok saget angsal kaset e Basiyo kathah saking pundi ?”. ”Nganu mas, kaleh sasi wingi enten toko kaset sing ajeng tutup, trus kaset e do diobral, kulo angsal niki, sebagian” pedagang itu menerangkan. Dengan terselubung tendensi tertentu, pertanyaan berikutnya mengikuti ”Lha tokone kok tutup niku bangkrut nopo ? teng pundi to tokone ?” Berusaha untuk defend, ”Waa… sakniki pun tutup kok mas, pun mboten enten barang-barang e, pun  telas sedoyo”

 

Saya dan Aris tak sabar mendengarkan isi rekaman, ”Disetel neng kos e kancaku wae neng Samirono, ben cepet !” Aris menganjurkan. Laju sepeda motor mengarah ke Samirono, dan hasrat untuk menikmati lawakan dari album lain akhirnya terpenuhi. Malam esoknya tujuh kaset yang tersisa diambil sekaligus melunasi pembayaran.

 

Dalam menikmati dua belas koleksi kaset Basiyo itu, terbesit pemikiran untuk merekam suara dalam kaset tersebut. Pemikiran itu muncul karena gagasan agar mudah diputar menggunakan player dalam komputer (winamp) dan mudah dalam storagenya. Mencari program yang cocok dan tepat dilakukan untuk mengawali, selanjutnya proses konversi dari format analog menjadi digital berlangsung, tape compo Aiwa digunakan dalam proses tersebut. Markas berkumpulnya para binatang jalang di Jongkang, dengan tuan rumah Yudi Priyo Amboro, juga dijadikan ”studio” rekaman kaset (rekaman kok kaset, biasanya sih suara).

 

Naluri untuk berburu belum surut, selanjutnya target pencarian bergeser dari pedagang loak ke toko yang lebih bonafide, dasar pemikirannya adalah ’siapa tahu toko itu masih punya kaset yang ”belum” laku. Kotamas, Podomoro, Bulletin, Popeye, telah dijelajahi. Toko terakhir ternyata masih menjual kaset Basiyo dengan tahun banderol baru, dan memiliki beberapa judul yang belum dipunyai. Namun pola pembelian berubah, dari borongan menjadi pieces alias satu per satu (samadya), hal ini karena satu judul terdapat lebih dari satu copy, sehingga tidak terburu-buru akan habis terjual, selain harganya memang lebih mahal dibanding pasar loak (dana terbatas), maklum saat itu orderan belum lancar. Di Popeye, Jalan Mataram (kalau gak salah), sebelah timur Jl. Malioboro, harga kaset Basiyo berkisar antar Rp9.000,- sampai Rp14.000,- jadi pengkoleksiannya dengan cara menyicil.

 

Seorang tetangga yang lain, Nevita Kumala Sari, anak bungsu dari guru saya waktu di Sekolah Dasar, juga tidak luput dari medan perburuan, hal karena mendapat informasi dari beberapa tetangga yang lain, bahwa kakek dan bapaknya pada jaman dahulu kala, sering memutar dagelan Basiyo. Pangkur Jenggleng pun menambah koleksi.

 

Metode kodifikasi rekaman Basiyo yang dilakukan selama ini ternyata mendapat keringanan bantuan dari seseorang di Gelanggang Mahasiswa UGM. Pak Pinto namanya, konversi dari analog ke dalam format digital ternyata juga dilakukannya, sehingga dengan bantuannya koleksipun bertambah jumlahnya (matur nuwun Pak).

 

Setelah beberapa waktu pencarian terhenti dengan banyak alasan teknis dan non-teknis. Sebenarnya sang Pemburu sudah mulai kehabisan ruang gerak untuk menentukan sasarannya (tapi sesungguhnya konsentrasi dialihkan untuk menyelesaikan tugas belajar, sudah terlalu lama disuspend). Saat itu seorang teman yang bernama Sigit Widya, tetangga rumah yang lain, membuka celah dengan relasinya yang bekerja di sebuah radio swasta di Yogyakarta. Penambahan koleksi pada fase ini juga berjalan mulus dan super simple, hal ini karena pada masa pencarian tersebut banyak mendapatkan tambahan koleksi dalam format mp3, jadi tidak perlu proses konversi.

 

Dalam beberapa tahun koleksi Basiyo hanya disharingkan kepada kalangan terbatas pada teman dan kenalan saja, hal ini bukan untuk membatasi peredarannya, tetapi karena si Pemburu hanya mengenal penggemar dagelan Basiyo hanya itu-itu saja. Pada akhir tahun 2008 realisasi BASIYO: DAGELAN MATARAM FOR HUMAN BEING dapat dilaksanakan dengan mengupload seluruh koleksi yang pada saat itu masih berjumlah 39 judul. Akhirnya proses tersebut dapat berjalan lancar dan seluruh file telah berada di dunia maya, meskipun mencuri waktu dan bandwith di kantor.

 

Mudah-mudahan pada fase perburuan berikutnya masih dapat terkumpul judul-judul yang saat ini telah terrecord, namun banyak terdapat kendala dalam memulai fase perburuan. Segala bentuk bantuan dari sesama penggemar dagelan mataram akan sangat membantu dalam menyebarluaskan rekaman, dan sedapat mungkin seluruh rekaman yang pernah dibuat oleh Almarhum Basiyo dapat disebarluaskan serta dinikmati oleh penggemar dagelan mataram (Basiyonist).

 

Dian M Prabowo mengucapkan maaf yang sedalam-dalamnya kepada para pihak yang kaset dan koleksinya tidak dikembalikan (lha wong koleksi kaset saya yo do amblas je… jan nganti resii..k, tobyat…!, soto iwak babyat), mudah-mudahan Tuhan Yang Maha Esa memberikan ganti yang berlimpah dan berlipat (gantine yo kaset lho.., neng berlimpah tur berlipat… hehehe.. malah raiso disetel yo..!?), dan diucapkan terimakasih sebesar-besarnya kepada para pihak yang telah memberikan kontribusi berupa informasi, kaset, file, kabel buat ngrekam, laptop buat nitip file, harddisk external, flash disk, helm, sandal, mantel hujan, utangan (mugo-mugo wes disaur), dan segala bentuk bantuan lainnya, sehingga file-file rekaman Basiyo dapat tersusun dengan sedemikian rupa dan dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk kepentingan umum.

 

Sekian, salam.

 

 

Cerita ini adalah nyata belaka, jika ada kesamaan nama, karakter, nama tempat, latar belakang, dan figur lain adalah memang disengaja, karena memang begitu adanya. Apabila nama-nama tokoh dan nama tempat diganti dengan nama fiktif, malah saya yang dituntut dimuka hakim. Dadi repot to..!?

    • galuh
    • Februari 7th, 2009

    lha ya perjuangane nggegirisi gitu, lho………. mbasan dadi digital saya mung clemat clemut wae. Pangapunten lho kang…
    Umpama waktu itu saya ada diantara panjenengan, barangkali raketang nunggu pit, saya bisa bantu.
    nuwun…nuwun

      • dagelanmataram
      • Februari 8th, 2009

      Hehehe….
      neng marai marem rasane…

    • galuh
    • Februari 7th, 2009

    O, nggih kang. Umpami kepareng timbang mbalung jagung olehe penjenengan kemringet. Sekarang coba berburu lagi, untuk convert kethoprak mataram ere mas widayat. sukur bisa dapat lakon sudiro………. itu lho, yang ada sutrisno, waryanti, candrono, tosidono, pangeran sepuh dana wilapa dsb. mesthi gayeng.

      • dagelanmataram
      • Februari 8th, 2009

      pangestune mawon mas..
      mugi diparingi wektu lan kesempatan

  1. “hosh…hosh…hosh…”
    lende-lende kene dhisik karo nggambar…hehehe…

      • dagelanmataram
      • Februari 15th, 2009

      We.. e.. e..

      opo kui, kok koyone ono sing puspo tajem..

      ne.. njuk udud e…

    • nevita
    • Februari 17th, 2009

    halaaaahh… kimplengggg…
    wer ar yuu nooww..??? hehehehe… pie kabare??? mis yu elot!!

      • dagelanmataram
      • Februari 19th, 2009

      Hehehehe………….

      mutiara yang hilang yo..!?
      saiki berburu dan meramu neng batavia.. kiy (reuni ro aris)
      kapan dolan neng batavia..?

    • aris
    • Maret 21st, 2009

    kaliman sabit….

    kulonuwon pak..niki kulo “mas bambang’.. walah jan kulo niki melu bungah, lha le berjuang sesobo pados kaset pun onten hasile sing migunani tumrap sederek-sederek sekalian lan ugi kangge nguri-uri kabudayan jawi to.
    Lha monggo lho umpami njenengan kaleres liwat daerah kelapa gading kulo aturi mampir..mangkih kulo cepak-cepak`ke karemenane…

      • dagelanmataram
      • Maret 24th, 2009

      Matur tengkyu

      • dagelanmataram
      • Maret 24th, 2009

      Lho…
      kok andang tkan klapa gading kiy… nganggo pentil ora to…
      ra neng cempka mas meneh to ?

    • ubeg
    • Juli 21st, 2009

    Menopo wonten koleksi dagelan Djunaedi sanesipun…salah setunggale ingkang “Tik kuning ala pitik kuning……kuwe moho—moho lintrik ala moho lintrik bocah cilik nuntun kirik…kirik plonthang—lamun ayak kirik plonthang sing duwe si doro tuan—tuan djunaedi—tuan djuanedi lungguh kursi lagi dahar roti——roti gandos—-roti gandos njobo empuk njero atos……(lali teruse)….nyuwun apunten

      • dagelanmataram
      • Agustus 7th, 2009

      Dagelan Junaedi saweg dipun padosi mas, menawi wonten referensi saged pun sharing…

      matur nuwun

  1. Belum ada trackback.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.